Perasaan ragu, kurang yakin, atau bahkan tiba-tiba khawatir saat beribadah merupakan tanda nyata bahwa setan sedang mengganggu konsentrasi umat Muslim yang sedang Shalat. Gangguan berupa waswas ini justru menjadi bukti bahwa di dalam dada kita tersimpan keimanan yang murni. Setan tidak akan membuang waktu untuk merusak hati yang kosong dari iman, sehingga munculnya rasa bimbang ini adalah tanda bahwa ibadah kita bernilai besar.
Sejumlah ulama menegaskan bahwa shalat yang diwarnai rasa waswas hingga melahirkan anjuran sujud sahwi adalah ibadah yang dipastikan diterima oleh Allah SWT. Rasa ragu yang muncul bukan berarti ibadah kita ditolak, melainkan sebuah kewajaran manusiawi yang membuktikan adanya perjuangan batin dalam menjaga kesucian shalat.
Artikel ini membahas arti waswas dalam ibadah, alasan setan mengganggu umat Muslim, keutamaan sujud sahwi menurut ulama, serta bukti bahwa rasa ragu adalah tanda shalat kita diterima.
Memahami Arti Waswas dan Lupa dalam Shalat
Rasa ragu dan khawatir saat beribadah adalah bentuk gangguan nyata dari setan untuk merusak kekhusyukan kita. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata “waswas” dengan ragu-ragu, kurang yakin, dan khawatir. Ketika perasaan ini hadir, kita tidak perlu berkecil hati karena hal ini merupakan bagian dari ujian bagi orang yang beriman.
Gangguan ini justru menyasar orang-orang yang menjaga agamanya dengan baik. Rasulullah SAW menjelaskan fenomena ini dalam sebuah kisah saat seorang sahabat mengadu tentang gangguan batin yang dialaminya:
وحكي أن رجلا شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم وسوسة الشيطان فقال إن الشيطان لا يدخل بيتا ليس فيه شيئ، فذلك من محض الإيمان.
Artinya, “Diceritakan bahwa seorang sahabat mengadu kepada Nabi SAW perihal waswas yang diembuskan setan. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Setan tidak masuk rumah di mana tak ada apapun di dalamnya.’ Itu semata-mata karena iman,” (Lihat Syekh Said M Ba’asyin, Busyral Karim, [Beirut: Darul Fikr, 2012 H/1433-1434 M], juz I, halaman 246).
Mengapa Sujud Sahwi Membuat Shalat Lebih Utama?
Sujud sahwi merupakan solusi hukum Islam yang sangat mulia untuk menutup celah kekurangan akibat gangguan setan. Tindakan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan sebuah bentuk perlawanan yang membuat ibadah kita memiliki nilai yang sangat tinggi.
Syekh Ali Al-Ajhuri Al-Maliki mengutip pandangan ahli ilmu mengenai keistimewaan ibadah yang disertai sujud penutup ini:
فائدة: نقل الشيخ علي الأجهوري المالكي عن أهل العلم: أن صلاة بسجود سهو خير من سبعين صلاة بلا سجود سهو، لأنها إذا كانت بغير سهو احتملت القبول وعدمه، ومع السهو يرغم بها أنف الشيطان، وما يرغم أنفه يرجى بها رضا الرحمن ففضلت بتلك الصفة
Artinya, “Informasi, Syekh Ali Al-Ajhuri Al-Maliki mengutip salah seorang ulama yang mengatakan bahwa shalat dengan sujud sahwi lebih baik daripada 70 shalat tanpa sujud sahwi karena sembahang tanpa sujud sahwi mengandung kemungkinan diterima atau ditolak. Dengan sahwi, setan terhina. Merendahkan setan dengan cara itu diharapkan mendatangkan ridha Allah karenanya shalat itu lebih utama dengan sifat demikian,” (Lihat Syekh Said M Ba’asyin, Busyral Karim, [Beirut: Darul Fikr, 2012 H/1433-1434 M], juz I, halaman 246).
Alasan Setan Selalu Mengganggu Shalat Umat Muslim
Setan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengganggu umat Muslim karena shalat melibatkan gerakan sujud yang sangat mereka benci. Gerakan sujud adalah posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Penciptanya, sehingga setan merasa sangat perlu merusak momen tersebut dengan embusan ragu.
Dua ulama besar menjelaskan mengapa perbedaan ini terjadi pada ibadah kita:
Imam An-Nakha’i
Beliau menyatakan, “Setiap shalat yang tidak ada waswas di dalamnya tidak diterima karena Yahudi dan Nasrani tidak merasakan waswas dalam shalat mereka.”
(وقال النخعي كل صلاة لا وسوسة فيها لا تقبل، لأن اليهود والنصارى لا وسوسة لهم).
Sayyidina Ali RA
Beliau menegaskan bahwa perbedaan shalat kita dengan ahli kitab terletak pada hadirnya gangguan setan. Setan tidak mendatangi ibadah orang kafir karena arah hidup mereka sudah sejalan.
(وقال علي كرم الله وجهه الفرق بين صلاتنا وصلاة أهل الكتاب وسوسة الشيطان لأنه فرغ من عمل الكفار، لأنهم وافقوه).
Merasa shalat tidak diterima akibat munculnya rasa waswas bukanlah tanda kehancuran ibadah, melainkan bukti otentik adanya iman yang hidup di dalam dada kita dan perjuangan melawan musuh nyata yang sedang mengharapkan keridhaan Allah SWT.
BACA JUGA: 10 Golongan yang Shalatnya Tidak Diterima
