Layanan transportasi dan perkemahan di Armuzna menjadi fokus perhatian utama karena dua sektor ini merupakan titik paling rawan saat jutaan jemaah bergerak bersamaan. Pengawasan ketat dilakukan untuk memastikan seluruh proses ibadah mulai dari wukuf di Arafah, mabit di Mina, hingga lempar jumrah berjalan dengan lancar. Kesiapan fasilitas ini sangat penting mengingat ada sekitar 241 ribu jemaah Indonesia yang berkumpul di Makkah menjelang puncak haji.
Pemerintah juga menyiapkan skema murur untuk jemaah lanjut usia dan jemaah berisiko tinggi agar pelaksanaan ibadah berjalan lebih aman dan tertib. Pengawasan dilakukan secara langsung agar PPIH mendata secara akurat siapa saja jemaah yang ikut skema murur maupun jemaah yang menjalani mabit di Muzdalifah dan Mina secara reguler. Langkah ini diambil untuk menjaga kondisi kesehatan seluruh rombongan haji asal Indonesia.
Memantau Titik Rawan di Transportasi dan Perkemahan
Kesiapan angkutan bus dan tenda di Armuzna menjadi hal yang paling krusial karena jutaan orang dari seluruh dunia akan bergerak dalam waktu yang bersamaan. Jalur ini selalu menjadi tantangan besar setiap tahunnya, sehingga pengawasan ketat harus dilakukan sejak dini. Sektor ini menentukan kenyamanan dan keselamatan fisik para jemaah saat berpindah tempat ibadah.
Fasilitas yang matang dibuat agar rangkaian ibadah inti berikut bisa berjalan maksimal:
- Wukuf di Arafah.
- Mabit di Mina.
- Prosesi lempar jumrah.
Mengatur Skema Murur untuk Lansia
Skema murur dirancang khusus untuk melindungi jemaah lanjut usia dan jemaah berisiko tinggi dari kelelahan ekstrem. Melalui sistem ini, jemaah yang fisiknya lemah akan melintas di Muzdalifah tetap berada di atas bus tanpa turun, sehingga kondisi tubuh mereka tidak drop. Penerapan aturan ini bertujuan agar jalannya ibadah tetap tertib dan tidak membebani jemaah yang rentan.
PPIH bertugas mendata dengan teliti pembagian kelompok jemaah di lapangan. Pembagian ini dilakukan agar semua orang mendapatkan perhatian yang adil sesuai kondisi fisiknya:
- Kelompok Skema Murur: Khusus untuk jemaah lansia dan kelompok risiko tinggi demi keamanan mereka.
- Kelompok Mabit Reguler: Untuk jemaah sehat yang tetap bermalam di Muzdalifah dan Mina seperti biasa.
Mengurangi Aktivitas Berat Jelang Puncak Haji
Jemaah Indonesia diminta untuk membatasi kegiatan fisik yang menguras tenaga dan lebih fokus menjaga kesehatan di hotel masing-masing. Berdasarkan pantauan Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Hidayat Nur Wahid (HNW), berkumpulnya sekitar 241 ribu jemaah Indonesia di Makkah akan membuat suasana kota menjadi sangat padat. Kepadatan yang tinggi ini menuntut stamina yang prima dari setiap individu.
Menjaga kebugaran adalah kunci utama agar seluruh rangkaian ibadah wajib nanti bisa diselesaikan tanpa kendala medis. Ketika kondisi tubuh terjaga, umat Muslim dapat beribadah dengan lebih tenang dan maksimal saat hari H pelaksanaan haji tiba.
