Emha Ainun Nadjib, atau yang lebih akrab kita sapa sebagai Cak Nun, adalah tokoh besar Indonesia yang dikenal sebagai budayawan, penyair, sekaligus pemikir yang sangat luas pandangannya. Beliau lahir di Jombang pada 27 Mei 1953 dan telah melahirkan ribuan karya yang membangkitkan kesadaran rohani masyarakat melalui berbagai forum budaya dan keagamaan.
Quotes Cak Nun sering menjadi pegangan bagi banyak orang karena bahasanya yang jujur, tajam, namun tetap menyejukkan dalam memotret kenyataan hidup. Pesan-pesan beliau mengajak kita untuk kembali menjadi manusia yang utuh, yang mampu mencintai sesama tanpa syarat dan selalu mengutamakan kemanusiaan di atas segala kepentingan duniawi.
Siapa Sebenarnya Sosok Emha Ainun Nadjib?
Muhammad Ainun Nadjib merupakan putra keempat dari lima belas bersaudara yang lahir dari pasangan M. A. Lathief dan Halimah. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga pendidik yang sangat kuat, di mana ayahnya merupakan pemimpin lembaga sekolah. Meski memiliki akses mudah ke sekolah milik ayahnya, beliau justru memilih bersekolah di desa tetangga karena rasa rendah hatinya yang tinggi.
Kita mengenal beliau sebagai sosok multi-dimensi. Cak Nun adalah seorang seniman, cendekiawan, filsuf, hingga kyai yang cara berpikirnya melampaui batasan-batasan ilmu yang kaku. Bagi banyak orang, beliau merupakan cermin bagi mereka yang ingin belajar tentang keseimbangan antara dunia rohani dan realitas sosial di Indonesia.
Mengenal Perjalanan Hidup sang Budayawan
Pendidikan beliau dimulai dari Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, namun perjalanan di sana harus berakhir sebelum selesai. Beliau dikeluarkan karena dituduh menggerakkan aksi demonstrasi santri untuk menentang para guru. Peristiwa ini justru membentuk karakter beliau menjadi pribadi yang kritis dan bebas dalam berpikir.
Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, beliau sempat mencicipi bangku perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, setelah ayahnya wafat akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 1974, beliau memutuskan untuk berhenti kuliah. Langkah inilah yang kemudian membawa beliau fokus pada dunia teater dan sastra, hingga akhirnya menjadi sosok yang sangat berpengaruh bagi budaya Indonesia.
Daftar Lengkap Kata Kata Cak Nun dan Quotes Emha Ainun Nadjib
Berikut adalah 30 kutipan asli dari Emha Ainun Nadjib yang dituliskan sama persis sesuai sumber aslinya sebagai bahan renungan kita bersama:
- “Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?”
- “Hanya sunyi, yang sanggup mengajarkan kita, untuk tak mendua.”
- “Generasi kempong tidak punya waktu dan tidak memiliki tradisi untuk tahu beda antara kalimat sindiran dengan bukan sindiran. Tak tahu apa itu ironi, sarkasme, sanepan, istidraj … Generasi kempong sangat rentan terhadap apa saja, termasuk informasi … Tidak ada etos kerja. Tidak ada ideologi dharma, atau falya’mal ‘amalan shalihan … Yang dipunyai hanya obsesi hasil, khayal kepemilikan dan kenikmatan.”
- “Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.”
- “Only the lonely, who can teach us, to not ambiguous.”
- “Cobalah engkau beranjak dari kursi, pergilah ke cermin. Sejenak saja. Tataplah wajahmu, badanmu, pakaianmu, dan seluruh penampilanmu. Setidaknya engkau bisa menyadari satu hal saja: Bahwa potongan rambutmu yang seperti itu , jenis dan warna baju dan celanamu, juga seluruh benda yang menempel di badanmu-semuanya-adalah sesuatu yang engkau pilih sesuai dengan kesenanganmu.”
- “What good is science if not expand one’s soul so that she behaves like an ocean that holds the trash. What good is intelligence if not enlarge one’s personality so that he was increasingly able to understand other people?”
- “Manusia Indonesia tidak jera ditangkap sebagai koruptor, tetapi berpikir besok harus lebih matang strategi korupsinya. Mereka melakukan hal-hal melebihi saran setan dan ajaran iblis, pada saat yang sama bersikap melebihi Tuhan dan Nabi”
- “Iblis tidak berjarak dengan diri kita, dengan karakter budaya, politik dan pasar sejarah kita. Malah Tuhan yang jaraknya cenderung semakin menjauh dari kita, kecuali pas kita perlukan untuk memperoleh keuntungan atau mentopengi muka. Akan tetapi dalam kehidupan kita Iblis bukan fakta. Ia hanya simbol. Idiom. Icon. Hanya abstraksi untuk menuding “kambing hitam”. Atau Tuhan kita perlukan untuk kapitalisasi karier, bisnis pendidikan, usaha dagang sedekah dan industri zakat, kostum religi perbankan dan bermacam-macam lagi dusta liberal penyelenggaraan kapitalisme kita.”
- “You must become a free man so that you have “Sidik Paningal; Java” (lucidity and precision of sight). Later, you achieve the peak of detachment of sight (Ma’rifat), where you see something to the horizon with great clarity. Do not take another step before you are certain that the path you take is the right one. Failure is another matter; what matters is precision.”
- “The love between husband and wife starts with Bismillahirrahmanirrahiim, the husband praises his wife. Alhamdulillahirrabbil ‘alamin- if it is interpreted horizontally- ‘she is my wife who is to be praised. Arrahmanirrahiim, full of grace and compassion to me. Maliki yaumiddin, she truly rules my heart. After praising, there follows the determination of love. When this is done, then one may ask to be guided in the right path.”
- “Rakyat berasal dari kata ro’iyah artinya kepemimpinan, maka rakyat hakekatnya pemimpin tertinggi diatas presiden, gubernur dan lain sebagainya. Umat dari kata umm artinya ibu yaitu serumpun, sekelompok, segolongan, dan masyarakat dari kata syirkah artinya berserikat yaitu beberapa kelompok yang mempunyai tujuan yang sama.”
- “Kita sangat sukar dan malas untuk memahami dan berjalan antara Baina wasilah wal ghoyyah, mana numpang mana lewat, mana syariah mana tarekat, mana alat mana tujuan. Cukup sulit dan tak punya logika dalam memandang mana latta (tokoh), mana uzza (idola), sungguh keadaan yang sangat mencemaskan tingkat degradasi nilai-nilai akhlak hidup hari-hari ini.”
- “Seringkali orang merasa bisa memahami sesuatu, padahal sesungguhnya ia hanya memahami pemahamannya sendiri belaka. Orang melihat dan merasa telah berhasil melihat, padahal yang dicapainya hanyalah batas penglihatannya saja.”
- “Segala sesuatu yang dibatasi oleh mati, bukanlah sukses. Sukses adalah suatu pencapaian yang melampaui maut,yang abadi melintasi kematian, mengalir hingga titik simpul di mana awal dan akhir menyatu.”
- “Zikir adalah Anda menyadari segala sesuatu secara menyeluruh. Anda tidak bisa melihat pohon tanpa menemukan Allah. Anda tidak bisa bangun tidur tanpa mengingat Allah. Anda tidak bisa mimpi tanpa kesadaran tentang Allah. (h.20)”
- “Ilmu adalah sesuatu yang harus dimasuki oleh semua pelaku Islam, karena Islam menyediakan pintu-pintunya. Kalaupun Anda tidak sekolah, ketika Anda sudah meng-Islam-kan diri Anda, maka dengan sendirinya Anda bersekolah. Ini berlaku dalam hal apa saja.”
- “Semua bidang keahlian khusus yang diajarkan di semua fakultas itu sekunder. Yang primer, yang utama adalah bagaimana seseorang menjadi manusia. Seseorang menjadi dokter itu sekunder, menjadi insinyur itu sekunder, jadi presiden itu sekunder, karena yang nomor satu adalah menjadi manusia. Apakah manusia itu? Tanya pada yang buat manusia, begitu mestinya. Untuk bisa bertanya pada yang membuat manusia, dekat-dekatlah dengan orang yang paling dekat dengan yang membuat manusia, sekaligus dekat dengan ciptaan-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad sangat dekat dengan Allah, sangat dicintai oleh Allah, ya, kita belajar pada manusia Muhammad. (h.26)”
- “Orang “to be”, saya gagal bertubi-tubi.”
- “Dari janin, aku dikawal dan dididik untuk menjadi jasad.”
- “Seperti yang sering saya sampaikan, pendidikan adalah sebuah metode untuk mengantarkan murid mengingat-ingat apa yang harus dia ingat, dan mungkin, di satu pihak, melupakan apa yang harus dilupakan –misalnya dendam, sakit hati, dan bermacam-macam urusan lainnya. (h.16)”
- “Anda ingat Allah karena Anda punya kecerdasan untuk mengingat-Nya. Anda punya mekanisme intelektual dan ruhaniah sedemikian rupa sehingga hasilnya adalah Anda ingat Allah. Bukan ingat Allah sebagai “pohonnya”, tetapi sebagai “buahnya”. (h.32)”
- “Setelah kita membiasakan diri untuk hidup dalam dialektika antara rahman dan rahim, antara taklim dan takrif, maka takdib kita –atau pemberadaban perilaku kita sehari-hari– akan terbimbing secara rasional maupun naluriah dari dalam diri kita. Jangan lupa bahwa Allah bekerja sangat nyata di dalam diri seseorang. (h.19)”
- “Kalau manusia selalu ingat setiap hari, maka dia akan sadar bahwa dia sangat tidak berdaya. Dia sangat kecil, dia sangat debu, dan dia sangat bukan apa-apa di tengah alam semesta ciptaan Allah. (h.18)”
- “Dzikrullah berdialektika dengan tingkat kecerdasan. Kecerdasan tidak bisa ada dan berdiri begitu saja. Dia juga harus punya infrastruktur yang namanya kesungguhan, tradisi untuk presisi terhadap amanahnya, terbiasa untuk menghitung tabligh-nya, sehingga kecerdasannya akan sangat akurat. Jika sudah demikian, maka dzikrullah-nya juga akan sangat lancip untuk menuju ruhaniah-nya Allah SWT. (h.36)”
- “Tuhan memancarkan siaran yang sama, tetapi televisi manusia berbeda-beda, bertingkat-tingkat daya tangkapnya.”
- “Tidak mungkin Anda mencintai sesuatu tanpa ada rentang pengetahuan di antaranya. (h.15)”
- “Kalau kita bicara tentang Islam, sebenarnya Islam itu bukan ilmu. Islam itu cinta dan kepercayaan. Tetapi, untuk menjalankan dialektika antara cinta dan kepercayaan, kita membutuhkan pengetahuan dan ilmu. Namun, ilmu bukanlah substansinya. Ilmu adalah tarekatnya. Ilmu adalah cara. Ilmu adalah pintu-pintu untuk memasuki Islam. (h.17)”
- “Saat orang-orang naik ke puncak karier, saya tak tahu di mana tangganya.”
- “Sifat Rasulullah yang pertama bukan alim, bukan hebat, bukan aziz, bukan sakti, tetapi shiddiq –kesungguhan. (h.32)”
ARTIKEL TERKAIT: Kata Mutiara Habib Umar bin Hafidz tentang Cinta
