Sebagai umat Islam, kita tentu selalu merasa bergetar setiap kali memasuki bulan Dzulhijjah. Mengapa? Karena bulan ini bukan sekadar penutup dalam kalender Hijriyah, melainkan salah satu dari empat bulan haram yang sangat mulia bersama Rajab, Dzulqo’dah, dan Muharram.
Di bulan-bulan haram inilah Allah menetapkan pelipatgandakan pahala bagi siapa saja yang giat beramal shalih. Sebaliknya, kita semua juga harus ekstra hati-hati karena perbuatan dosa di dalamnya menjadi lebih besar di sisi Allah. Namun, dari seluruh bagian bulan ini, ada satu waktu emas yang paling utama, yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
Keagungan waktu ini bahkan diabadikan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang satu.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Tidak hanya itu, Rasulullah SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM juga menegaskan betapa dahsyatnya keutamaan beramal di waktu tersebut melalui sabdanya:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
Bagi kita, momentum ini adalah kesempatan terbaik untuk “panen pahala” dan menaikkan level ketakwaan. Nah, agar umat Islam bisa menyambutnya dengan persiapan matang, berikut adalah rangkuman amalan bulan Dzulhijjah tanggal 1 sampai 10 yang sangat dianjurkan untuk kita kejar bersama:
1. Menunaikan Ibadah Haji dan Umroh
Bagi umat Islam yang diberikan kelapangan rezeki dan fisik yang prima, inilah puncak amalan di bulan Dzulhijjah. Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan bagi yang mampu. Allah SWT berfirman:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 27-28)
Kewajiban menjaga diri selama berhaji juga ditegaskan dalam ayat lain:
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah [2]; ayat: 196-197)
2. Memperbanyak Puasa Sunnah, Terutama Puasa Arafah
Jika belum bisa berangkat haji ke Makkah, kita tidak perlu berkecil hati. Umat Islam bisa menghidupkan hari-hari ini dengan berpuasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Khusus pada tanggal 9 Dzulhijjah, saat jemaah haji sedang wukuf, kita sangat dianjurkan memantapkan diri dengan melaksanakan Puasa Arafah.
Keutamaannya luar biasa, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa_sallam:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
3. Menghidupkan Takbir dan Dzikir
Amalan yang paling mudah namun sering terlupakan adalah berdzikir. Sepanjang sepuluh hari pertama ini, mari kita basahi lidah kita dengan tahlil, tasbih, istigfar, tahmid, bertakbir, dan memperbanyak doa.
Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.”
Bahkan, Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.
4. Memperbanyak Tahlil, Tahmid, dan Takbir Mutlaq
Melanjutkan anjuran berdzikir, umat Islam sangat disunnahkan untuk menggemakan takbir mutlaq (takbir yang tidak terikat waktu shalat) sejak tanggal 1 Dzulhijjah.
Kita dianjurkan untuk memperbanyak ucapan “Laa ilaha illallah” (tahlil), “Alhamdulillah” (tahmid), dan “Allahu Akbar” (takbir) di mana saja kita berada—baik saat berjalan, di pasar, maupun saat beraktivitas di dalam rumah.
Hal ini menjadi syiar untuk membesarkan nama Allah di hari-hari yang agung ini agar lingkungan sekitar kita dipenuhi keberkahan.
5. Melaksanakan Ibadah Qurban (Udhiyah)
Tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Di sinilah saatnya kita menyisihkan sebagian harta untuk menyembelih hewan qurban (kambing, lembu, atau unta) setelah shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyrik berikutnya.
Perintah ini disyariatkan dalam Al-Qur’an surat al-Kautsar ayat 2: “Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an-nahr).” Para Jumhur ulama menafsirkan ayat tersebut dengan “Berqurbanlah pada hari Idul Adha (yaum an-Nahr).”
Qurban ini adalah bukti nyata ketaatan dan cinta umat Islam kepada Sang Pencipta, sebab Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah nundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Hajj [22]; ayat: 37)
6. Bertaubat dan Bertekad Tidak Bermaksiat
Bagi kita semua, pondasi dari semua amalan di atas adalah taubat. Sebelum menyibukkan diri dengan amalan shalih, mari kita bersihkan diri terlebih dahulu dengan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan kezholiman terhadap sesama di awal bulan Dzulhijjah ini. Allah SWT mengingatkan umat Islam:
“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. An-Nahl [16]; ayat : 119)
Kesimpulan
Ingatlah, kesempatan menemui 10 hari pertama Dzulhijjah adalah karunia umur yang sangat besar dari Allah SWT. Sungguh rugi jika kita melewatinya begitu saja tanpa peningkatan ibadah. Selain poin-poin di atas, amalan umum seperti shalat sunnah, sedekah, dan membaca Al-Qur’an juga sangat patut kita rutinkan dalam keseharian.
Mari kita tutup dengan merenungkan Mutiara Hikmah berikut: “Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak pernah berkurang, kedua bulan itu adalah bulan id: bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
